Friday, January 26, 2007

10 NOVEMBER '45

MENGAPA INGGRIS MEMBOM SURABAYA?

Analisis Latar Belakang Agresi Militer Inggris November 1945


Oleh: Batara R. Hutagalung

===================================================



Daftar Isi

Sepatah Kata

BAB SATU
Pendahuluan
Sekilas Sejarah
VOC dan Masa Penjajahan Belanda
Gerakan Nasional
Perang Dunia II
Masa Pendudukan Jepang

BAB DUA
Proklamasi Kemerdekaan
Terbentuknya Pemerintahan Republik Indonesia di Surabaya
Pembentukan BKR dan Berbagai Pasukan/Laskar
Perebutan Senjata Dari Jepang
Upaya Belanda Kembali Menjajah Indonesia
Tentara Inggris Tiba di Indonesia
Mission Impossible dari Laurens of Batavia
“Pembersihan” oleh Tentara Inggris dan Australia. KNIL Masuk Indonesia

BAB TIGA
Brigade 49 Mendarat di Surabaya
Pertempuran 28 - 30 Oktober 1945
Inggris Mengibarkan Bendera Putih
Presiden Sukarno Diminta Melerai “Insiden Surabaya”
Brigadier Mallaby Tewas
Sosok Brigadier Mallaby, Perwira Administrasi

BAB EMPAT

Divisi 5 Mendarat. Ultimatum Inggris, 9 November 1945
Surabaya, November 1945
Berbagai Reaksi Atas Agresi Militer Inggris
Veto Prancis Menggagalkan Resolusi Dewan Keamanan PBB

BAB LIMA

Analisis Latar Belakang Agresi Militer Inggris
Alasan Psikologis - Emosional
Terikat Perjanjian Dengan Belanda dan Keputusan Konferensi Yalta
Kesimpulan
Pelanggaran Yang Dilakukan Tentara Inggris
- Pelanggaran Atlantic Charter dan Charter for Peace
- Pelanggaran Preambel PBB
- Pelanggaran AD PBB Pasal 1 dan 2
- Pelanggaran HAM
Crime against humanity
Mengakibatkan Pengungsian (enforced displacement)
- Penyimpangan Tugas Allied Forces
- Kejahatan Perang? (war crimes)
Epilog
Penutup
Referensi
Istilah Asing dan Singkatan

Lampiran

- Atlantic Charter
- Dokumen Penyerahan Jepang di Tokyo, 2 September 1945
- Dokumen Penyerahan Jepang di Singapura, 12 September 1945
- Kesaksian Mohammad Mangundiprojo
- Kesaksian Imam Sutrisno Trisnaningprojo
- Terjemahan Ultimatum Mansergh
- Terjemahan Dokumen Rahasia Inggris
- Terjemahan Kesaksian Kapten R.C. Smith
- Terjemahan Kesaksian Mayor Venu K. Gopal
- Surat Perintah Vice Admiral Lord Louis Mountbatten
- Uraian Richard Gozney, Duta Besar Kerajaan Inggris
- Anggaran Dasar PBB Bab 1, Pasal 1 dan 2

Indeks
Mengenai Penulis

===============================================================

Sepatah kata

Penelitian yang mendalam mengenai peristiwa pertempuran di Surabaya bulan Oktober dan November 1945 serta latar belakangnya, berawal ketika penulis melengkapi data untuk naskah Riwayat Perjuangan Letnan Kolonel TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung, seorang pelaku sejarah, yang ketika ke luar dari dinas ketentaraan pada bulan Maret 1950, adalah Kwartiermeestergeneraal Staf “Q” AD.
Untuk mencocokkan serta melengkapi data sejarah, penulis telah telah mewawancarai sejumlah pelaku pertempuran Surabaya serta pelaku sejarah lainnya. Dalam beberapa pembicaraan dan diskusi, terlihat bahwa ada beberapa hal yang hingga kini belum terungkap. Selain itu, penelitian yang dilakukan atas beberapa peristiwa sebelum terjadinya agresi militer yang dilancarkan tentara Inggris mulai tanggal 10 November 1945, menunjukkan bahwa telah terjadi pemutar-balikan fakta, yang sampai sekarang belum mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pihak Indonesia.
Hal-hal tersebut perlu dikoreksi dan diluruskan, agar supaya generasi mendatang bangsa Indonesia tidak lagi membaca sejarah yang salah atau kurang tepat mengenai perjuangan mencapai kemerdekaan. Juga dunia internasional harus mengetahui, bahwa alasan Inggris untuk melancarkan agresi militernya, bukanlah seperti yang tertera dalam ultimatum 9 November 1945.
Hal ini sangat penting untuk dilakukan, di samping meluruskan penulisan sejarah, juga untuk memberikan rasa keadilan bagi para korban pemboman dan pembantaian, juga demi harga diri sebagai bangsa yang telah memproklamasikan kemerdekaannya –yang adalah hak asasi setiap bangsa- tetapi tidak mau diakui oleh para penjajah, yang ingin kembali berkuasa di bekas jajahan mereka.
Dari hasil penelitian, terlihat beberapa pelanggaran yang telah dilakukan oleh tentara Inggris, yang ditugaskan oleh pimpinan tentara Sekutu (Allied Forces). Seluruh garis Komando dari Komando Asia Tenggara (South-East Asia Command – SEAC, dari mulai Panglima Tertinggi (Supreme Commander South East Asia), Vice Admiral Lord Louis Mountbatten, yang adalah keluarga kerajaan Inggris, kemudian Panglima AFNEI (Allied Forces in the Netherlands East Indies), Letnan Jenderal Sir Philip Christison, juga seorang bangsawan Inggris, hingga para pimpinan Divisi 5 dan 23 (British-Indian Division) yang terlibat dalam peristiwa di Surabaya, dipegang perwira-perwira Inggris..
Dari Seminar Internasional “The Battle of Surabaya, November 1945. Back Ground and Consequences” yang diselenggarakan sebagai kerjasama antara KPHARS dan LEMHANNAS (Lembaga Ketahanan Nasional) pada tanggal 27 Oktober 2000, diperoleh beberapa masukan yang sangat berharga. Yang terpenting dalam Seminar tersebut adalah hadirnya Duta Besar dan Berkuasa Penuh Kerajaan Inggris untuk Indonesia, Richard Gozney CMG, yang juga tampil sebagai pembicara. Beliau, atas nama Pemerintah Inggris menyatakan penyesalan atas tewasnya ribuan penduduk sipil dalam agresi militer Inggris terhadap Surabaya, November 1945. Ini patut dicatat dalam sejarah, bahwa untuk pertama kalinya Pemerintah Inggris, melalui Duta Besarnya menyatakan penyesalan tersebut.
Pemerintah Belanda sendiri hingga kini belum pernah meminta maaf atas penjajahan yang telah mereka lakukan, di beberapa daerah bahkan selama sekitar 200 tahun. Juga atas segala kekejaman yang telah dilakukan selama penjajahan tersebut, termasuk pembantaian puluhan ribu penduduk sipil di Sulawesi Selatan, yang dimulai pada tanggal 11 Desember 1946, berarti setelah Indonesia menyatakan Kemerdekaannya.
Membuka kembali lembaran sejarah, bukanlah untuk membuka luka lama atau bahkan membalas dendam, melainkan, di samping meluruskan penulisan sejarah, juga untuk melakukan analisis mengapa hal-hal tersebut dapat terjadi, sehingga dapat dilakukan berbagai upaya untuk mencegah pengulangan kejadian tersebut di masa depan, serta mengambil hikmah peristiwa tersebut.
Judul tulisan “Mengapa Inggris Membom Surabaya” adalah untuk menggunakan judul yang singkat. Memang serangan yang dilakukan Inggris tidak hanya pemboman dari pesawat, melainkan juga dari darat dan laut.
Dalam penulisan di buku ini termasuk nama orang, penulis menggunaan ejaan baru yang telah disempurnakan.
Akhirnya pada kesempatan ini, disampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setingi-tingginya atas informasi serta masukan yang diberikan oleh para pelaku sejarah, baik dari Jawa Timur maupun dari daerah lain di Indonesia, serta para senior dari generasi penerus, yang juga memberikan bahan dan masukan. Nama-nama para pelaku sejarah serta generasi penerus yang mempunyai andil besar dalam penyusunan tulisan ini tertulis dalam daftar referensi.
Rasa terima kasih juga perlu disampaikan khusus kepada Ibu Isbandiah Sungkono, Ibu Suprapti Ismail dan Ibu Lukitaningsih I. Radjamin –tiga pelaku sejarah di Surabaya- yang semangat kejuangannya patut menjadi teladan bagi generasi penerus.
Terima kasih serta penghargaan juga disampaikan kepada Bapak Mayor Jenderal POL (Purn.) Dr. M. Yasin, Bapak Suyatno Yosodipuro, Bapak Agus Amar dan Saudara Andreas Kumala (Pontianak), yang telah memberikan buku-buku serta bahan untuk melengkapi data maupun dokumen sejarah.


Jakarta, 28 Oktober 2001



Batara Richard Hutagalung


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home